Selasa, 14 Oktober 2014

Tanggapan Beragam Sejumlah Warga Banjar, Terkait Perselisihan Hj. Ade Uu vs Hj. YH


Tanggapan Beragam Sejumlah Warga Banjar, Terkait Perselisihan Hj. Ade Uu vs Hj. YH

 
Terjadinya pertengkaran antara Walikota Banjar, Hj. Ade Uu Sukaesih dengan Hj. Yani Herawati, yang berujung ke ranah hukum, mendapat tanggapan beragam dari sejumlah warga.
 
Ada yang beranggapan, bahwa dalam kasus tersebut, Hj. Ade berperan bukan sebagai walikota, melainkan ibu rumah tangga. Pasalnya, pertengkaran keduanya dipicu oleh masalah pribadi.
“Saya kira apa yang dilakukan ibu Ade wajar. Karena itu kan masalah pribadi, masalah rumah tangganya. Walikota itu jabatannya, tapi dia juga manusia, ibu rumah tangga. Saya yakin setiap wanita pasti akan marah tatkala rumah tangganya diganggu orang. Dan saya sendiri sebagai kaum wanita tentu tidak akan rela jika ada yang mengganggu kehidupan rumah tangga saya dan suami,” tutur Eni Rohaeni, salah seorang warga Banjar, kepada HR, Senin (13/10/2014).
Pendapat serupa juga diungkapkan Elis Lisnawati, warga lainnya. Menurut dia, meskipun kaum lelaki berhak memiliki istri lebih dari satu, namun hal itu jangan lantas dijadikan pembenaran oleh kaum laki-laki untuk berpoligami.
“Kalau hal itu menimpa saya, tentu saya pun akan melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibu Ade. Siapa sih wanita yang rela suaminya diganggu wanita lain. Memang dia itu sebagai figur, sebagai orang nomor satu di Banjar, tapi dia juga punya perasaan layaknya seorang istri. Jadi saya rasa masalah ini tidak ada kaitannya dengan jabatannya. Saya pribadi turut prihatin saja dengan peristiwa tersebut,” ujar Elis.
Tanggapan lainnya datang dari kaum laki-laki. Rata-rata mereka beranggapan bahwa sebagai lelaki sangat lah wajar jika seorang suami menyukai wanita lain di luar rumah. Namun demikian, dari kasus tersebut bukan tidak mungkin ditunggangi oleh masalah politik.
Seperti dikatakan Asep, warga Banjar. Menurut dia, wajar bila laki-laki memiliki wanita simpanan, terlebih bagi mereka yang memiliki banyak harta. Tetapi, kalau mau melakukan hal-hal yang beresiko seperti itu, sebaiknya sama orang jauh, artinya tidak satu daerah/kota.
“Ya menurut saya lelaki itu lebih berkuasa. Jadi wajar kalau di luar rumah punya simpanan wanita lain. Cuma harus lebih rapih kalau tidak ingin ketahuan, apalagi bila posisinya sebagai publik figur. Banjar ini kan kota kecil, jadi apapun itu bisa dengan mudah diketahui,” ujar Asep.
Sedangkan menurut Agus S, warga lainnya, mengkatakan, dalam kasus tersebut sangat mungkin disusupi oleh masalah politik. Terlebih Hj. Ade Uu Sukaesih merupakan orang nomor satu di Kota Banjar, dan suaminya pun mantan Walikota sekaligus pimpinan partai terbesar di Banjar.
“Bisa saja di balik permasalahan ini ditunggangi oleh pihak-pihak lain yang ingin mengguncang suhu politik di Kota Banjar. Hal itu saya rasa sangat mungkin terjadi, namanya juga politik,” kata Agus.
Beragam pendapat dan tanggapan dari sejumlah warga, mereka rata-rata menyikapi permasalah tersebut lebih melihat pada hak seorang kaum perempuan dan laki-laki. Dimana keduanya saling mengungkapkan pembenaran, meskipun sama-sama saling memiliki kelemahan.

Trotoar Jalan Galuh Ciamis Rusak Parah

 

Trotoar Jalan Galuh Ciamis Rusak Parah


Trotoar Jalan Galuh, di Kelurahan Ciamis, Kecamatan Ciamis, tepatnya di sebrang eks Kantor Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kabupaten Ciamis, kondisinya rusak parah. Ironisnya, kerusakan trotoar itu terkesan dibiarkan. Padahal, lokasinya berada tidak jauh dari pusat Pemerintahan.

Eka Muntaha, beberapa waktu yang lalu, mengatakan, trotoar yang rusak akibat dihantam kendaraan besar yang lewat itu seharusnya segera diperbaiki. “Harusnya diperbaiki. Apalagi trotoar ini berada di jalur jalan kantor DPRD, Kesbang, Catatan Sipil dan Dinas Sosial,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Adang Darajat, menyangkan dinas terkait tidak segera memperbaiki trotoar Jalan Galuh yang rusak itu. Menurut dia, trotoar itu sering dilalui pejalan kaki yang ingin pergi ke pusat perbelanjaan.
Kepala Bidang Perumahan dan Permukiman, Dinas Cipta Karya Kebersihan dan Tata Ruang (DCKKTR) Ciamis, Agus Komara, Senin (29/9/2014), mengatakan, pihaknya masih melakukan beberapa perbaikan di sejumlah titik trotoar.
“Masih banyak trotoar di wilayah perkotaan yang belum diperbaiki. Hal itu terkendala masalah anggaran. Namun perbaikan dan penataan trotoar perkotaan terus kami ajukan,” katanya.
Agus juga menyebutkan trotoar lainnya yang perlu mendapatkan perbaikan, diantaranya di wilayah Jalan Ahmad Yani dan Jalan Jendral Sudirman. Dia berharap, perbaikan trotoar mendapat porsi anggaran besar di tahun 2015

Alessandro Altobeli Betah Bergabung dengan PSGC Ciamis

Alessandro Altobeli Betah Bergabung dengan PSGC Ciamis

 

Alessandro Altobeli merupakan salah satu pemain yang saat dimiliki Skuad PSGC Ciamis. Striker PSGC Ciamis yang pernah menjadi bagian dari Timnas Pelajar U-18 ini salah satu pemain yang ikut berkontribusi terhadap lolosnya skuad laskar Galuh dari divisi satu ke Divisi Utama Liga Indonesia.


Bahkan, ketika bermain membela Laskar Galuh, Altobeli salah satu pemain yang menjadi pusat perhatian penonton. Dia disebut-sebut ”David Luiz” karena mirip dengan gaya rambutnya yang kribo.
Saat ditemui HR, seusai latihan di stadion Galuh Ciamis, Senin (6/10/2014), Altobeli menuturkan, awal bergabung dengan skuad PSGC Ciamis dari ajakan pemain asal Ciamis Didin Jahidin.
Dengan ajakan tersebut, Altobeli langsung mengikuti seleksi dengan skuad PSGC Ciamis. Hanya seleksi satu minggu, manejemen langsung memberikan keputusan untuk merekrutnya bergabung dengan PSGC Ciamis.
Lebih lanjut Altobeli panggilan akrabnya, mengaku, yang membuatnya semangat bermain di lapangan, adalah keluarga. Selain keluarga, yang bisa memotivasi saat bermain juga kepengurusan di manejemen, kepelatihan dan masyarakat tatar galuh.
”Jujur saya sangat senang bisa bergabung bersama skuad Laskar Galuh. Yang saya rasakan, manejemen disini sangat bagus dan sangat erat sekali jalinan kekeluargaannya. Saya kira ini juga dirasakan oleh pemain lainnya,” ujarnya.
Meski sering menjadi pemain cadangan, Altobeli sudah menunjukan kontribusi golnya untuk skuad PSGC Ciamis selama Divisi utama digelar. Saat ini Altobeli sudah mengoleksi dua gol untuk skuad laskar galuh.
”Target saya untuk PSGC, bisa menorehkan hasil yang terbaik, sekaligus meloloskan PSGC ke promosi ke ISL. Yang penting kemenangan tim di setiap pertandingan,” tuturnya.
Sayangnya, Altobeli mendapat hukuman dari Komdis PSSI. Altobeli tidak boleh main selama satu tahun bersama tiga rekannya dan didenda Rp 25 juta, karena telah melakukan protes keras pada wasit, saat pertandingan melawan Persis Solo, di stadion Manahan.
”Saya sangat kecewa dengan keputusan komdis PSSI. Menurut saya ini tidak adil. Pemain kelas dunia saja seperti Suarez, yang menggigit, hukumannya hanya enam bulan. Masa ini satu tahun,” ucapnya. (DSW/Koran-HR)

Biodata
Nama              : Alessandro Altobeli
TTL                : Argamakmur Bengkulu, 29.  Oktober 1993
Berat              : 58 kilogram
Tinggi              : 168 centimeter
No. Punggung : 19

Karir Sepakbola
2012 : Persikota (setengah musim)
2012 : Ps Bengkulu
2013 : PSGC Ciamis

Tugu Perbatasan Situbatu Banjar Jadi Tempat Mojok ABG


Tugu Perbatasan Situbatu Banjar Jadi Tempat Mojok ABG

Tempat biasa digunakan untuk berpacaran yaitu bangunan warung di lokasi tersebut. Sebab, bila malam hari, beberapa bangunan warung selalu kosong ditinggal pemiliknya. Seperti diungkapkan Kusnadi, salah seorang warga, kepada HR, Kamis (02/10/2014).
“Perlu diketahui, tempat yang biasa dipakai mojok anak remaja itu bukan hanya terdapat di wilayah perkotaan saja, tetapi di daerah pasisian pun ada. Coba saja kalau malam minggu jalan-jalan ke kawasan tugu perbatasan Banjar-Cimaragas, di sana kerap terlihat sejumlah pasangan anak ABG, terutama di dalam bangunan warung kosong,” tuturnya.
Menurut Kusnadi (43), saat ini fenomena seperti itu di kalangan remaja sudah dianggap hal yang lumrah. Terbukti, ketika dirinya sengaja menyambangi kawasan tugu tersebut saat malam minggu, sejumlah pasangan ABG tidak merasa takut atau malu melihat kedatangannya.
Kondisi itu menandakan bahwa telah terjadi pergeseran moral di kalangan generasi muda, khususnya di Kota Banjar. Untuk itu, kata Kusnadi, dalam melakukan penertiban atau razia terhadap lokasi-lokasi yang disinyalir dijadikan tempat berbuat negatif, harus disisir sampai ke daerah pelosok.
“Letak tugu perbatasan sudah jelas berada di daerah perbatasan. Otomatis bukan hanya remaja asal Banjar saja yang nongkrong atau mojok di situ, tapi ada juga dari luar Banjar. Untuk itu, saya sebagai warga berpendapat, ada baiknya razia juga dilakukan ke kawasan tersebut. Cukup malam minggu saja lah patrolinya,” kata Kusnadi.
Pendapat serupa diungkapkan Nurhayati (36), warga lainnya. Menurut dia, kurangnya lampu penerangan di sekitar lokasi membuat pasangan ABG itu terlihat nyaman, sehingga mereka lebih memilih mojok di dalam bangunan saung warung dari pada di taman.
“Ya saya setuju kalau kawasan tugu perbatasan dirazia juga. Siapa tahu nanti kalau sudah ada yang kena razia, yang lainnya jadi takut dan tidak akan mojok lagi di tempat tersebut. Kalau hanya sebatas nongkrong kumpul-kumpul saja sih tidak apa-apa, malah jadi haneuteun,” kata Nurhayati.

Rabu, 01 Oktober 2014

Situ Lengkong Panjalu

Situ Lengkong Panjalu
Situ Lengkong Panjalu adalah sebuah danau seluas 57,95 hektar dengan pulau di tengahnya seluas 9,25 hektar, bernama Nusa Gede. Di Pulau Nusa Gede terdapat hutan lindung beserta peninggalan purbakala. Konon, Nusa Gede awalnya adalah pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu, selain juga berfungsi sebagai benteng pertahanan. Di sini juga terdapat makam penyebar agama Islam yang bernama Mbah Panjalu. Didalam hutan terdapat 307 pohon yang terdiri dari 30 jenis.

Menurut cerita sejarah Panjalu, Situ Lengkong merupakan hasil buatan para leluhur Panjalu, yang hidup di jaman Kerajaan Hindu Panjalu. Konon pada awal abad ke-7, seorang raja Panjalu menginginkan putra mahkotanya memiliki ilmu yang paling ampuh dan paling sempurna. Maka berangkatlah sang putra mahkota yang bernama Borosngora menuju ke suatu tempat dan berakhir di tanah suci Mekah. Di sanalah tujuannya tercapai, yaitu mempelajari dan memperdalam Agama Islam dan membaca dua kalimah Syahadat.

Setelah tinggal cukup lama maka pulanglah sang putra mahkota ke Panjalu dengan dibekali air Zamzam, pakaian kesultanan, serta perlengkapan pedang dan cis. Di Panjalu, tugas utamanya adalah menjadi raja Islam dan sekaligus mengislamkan rakyatnya. Beliau kemudian menjadi Raja Panjalu menggantikan ayahnya dengan Gelar Sang Hyang Borosngora. Mulai saat itulah kerajan Panjalu berubah dari kerajaan Hindu menjadi kerajaan Islam. Konon, air zamzam dari Mekah ditumpahkan ke lembah bernama Lembah Pasir Jambu. Kemudian Lembah itu bertambah banyak airnya dan terjadilah danau yang kini disebut Situ Lengkong.

Lokasi: Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu
Koordinat: 7 7' 49.56" S, 108 16' 21.26" EArah: Dari barat, terutama dari Bandung,  berjarak sekitar 100 km, melalui Ciawi terus ke Panumbangan dan sampai di Panjalu. Sedangkan dari timur, yaitu Ciamis, berjarak sekitar 30 km melalui Buniseuri, Kawali dan sampai Panjalu.
Fasilitas: tempat parkir, sarana perbelanjaan cinderamata, sarana perahu menuju situ lengkong , MCK dan sekarang sedang di buat (proses pembuatan) mesjid yang cukup besar.