Selasa, 14 Oktober 2014

Situ Gede Kota Tasikmalaya

Situ Gede Tasikmalaya




Merupakan obyek wisata yang menawarkan keindahan panorama alam situ dengan hiasan hutan alam yang berada pada sebuah pulau kecil (nusa) yang terletak di tengah situ. Dengan luas keseluruhan sekitar 47 hektar, dan ditengah nusa seluas satu hektar terdapat Makam Eyang Prabudilaya, salah seorang tokoh agama Islam dari Tasikmalaya.
Keberadaan Situ memiliki fungsi sebagai sumber irigasi bagi lahan sawah di sekitarnya. Sementara keberadaanya pun menjadi daya tarik wisata alam yang cukup besar mengingat letaknya yang tidak begitu jauh dari pusat Kota Tasikmalaya, sekitar 30 menit perjalanan dengan kendaraan.
Kawasan Situ Gede memiliki kelengkapan sarana dan prasarana yang setiap tahunnya dilengkapi oleh pemerintah. Di antaranya gapura, loket, musola, toilet, jogging track, serta taman. Masyarakat sekitar menjadikan kawasan tersebut sebagai lahan mata pencaharian mereka di antaranya kios-kios, warung nasi yang menawarkan aneka menu ikan khas Situ Gede, penyewaan rakit, penyewaan perahu motor, atau pun sekedar mencari ikan untuk dijual.
Keberadaan Situ Gede pun menawarkan berbagai alternatif wisata, seperti wisata air, wisata ziarah, wisata olahraga, sampai wisata kuliner. Sehingga di lokasi Situ Gede ini masih membutuhkan tangan-tangan investor untuk ikut serta dalam pengembangnnya.
Akan lebih menarik bila di lokasi Situ Gede dibangun tempat penginapan, penyewaan jetsky, restoran yang representatif, kios-kios cinderamata, kawasan outbond, taman bermain, dermaga pemancingan, dan lain-lain. Namun untuk pembangunan di Situ Gede harus tetap mengacu pada master plan yang disusun untuk tetap menjaga kelestarian alam.
Salah satu sumber daya alam yang belum dimanfaatkan secara optimal yang dapat diandalkan untuk pembangunan perekonomian masyarakat Kota Tasikmalaya adalah objek wisata situ gede yang terletak dikelurahan Linggajaya dan Mangkubumi Kecamatan Mangkubumi.
Situ Gede merupakan sebuah danau seluas 47 Ha dengan kedalaman air antara 1,5 s.d. 6 meter. Ditengah-tengah terdapat sebuah pulau dengan luas 1 Ha, dipulau ini dimakamkan Eyang Prabudilaya yang legendanya berkembang di masyarakat Kota Tasikmalaya, letak situ gede relatif dekat dengan pusat Kota Tasikmalaya, kuang lebih+4 km.
Fasilitas bagi wisatawan adalah gazebo 7 buah, tempat parkir cukup luas, masjid, MCK, rakit, tempat memancing, taman dan camping ground.

Aktivitas para wisatawan yang dapat dilakukan adalah joging, memancing, menjala ikan, mengelilingi pulau dengan rakit, menikmati pemandangan alam dengan nuansa pedesaan yang sejuk dan segar, menikmati bakar dan goreng ikan dikios-kios sekitar objek wisata, serta ziarah ke pulau situ gede.

Curug Dengdeng

Curug Dengdeng


Curug Dengdeng di beri nama karena struktur curug yang bertingkat atau membentuk bedengan. Hulu curug ini  berada di Gunung Raja sedangka hilirnya berada di Sungai Cimedang. Curug ini berada di sungai Cikembang dengan panjang sungai ± 20km dengan lebar sekitar 30m.

Curug Dengdeng memiliki 3 tingkatan curug. Yang pertama tingginya 13 m, yang kedua 11 m dan yang ketiga 9 m. Dari tingkat pertama dapat terlihat aliran Sungai Cikembang dan pemandangan alam yang sangat indah, dimana hamparan sawah dan pohon kelapa yang tersebar dibagian bawah dapat terlihat jelas.  Selanjutnya di tingkat dua, akan terlihat indahnya curug tingkat pertama. Begitu lebar. Kebanyakan orang akan mandi dibawah aliran air curug. Sedangkan di bagian curug yang ketiga akan terlihat curug secara keseluruhan. Curug akan terlihat jelas membentuk bedengan dan memantulkan cahaya matahari. Ada salah satu bagian dari curug, yang dipercaya bila airnya dapat membuat awet muda.

Legenda

Curug Dengdeng menyimpan sebuah sejarah. Pada zaman dahulu kala pernah terjadi pertarungan antara dua orang pangeran di curug ini. Perkelahian tersebut terjadi antara Pangeran Jaya Laksana dan Pangeran jaya Nalangsa. Keduanya mengadu kekuatan atau kesaktian (kanuragan). Siapa yang kalah maka akan terlempar ke bagian bawah curug, sedangkan pemenangnya akan bertahan di bagian atas curug. Selain pernah dijadikan sebagai tempat pertarungan, Curug Dengdeng juga pernah dijadikan sebagai tempat persembunyian atau markas DI/TII.



    Lokasi

Terletak di Dusun Sangkali, desa Cogreg, Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat.

Situs Lingga Yoni

Situs Lingga Yoni 

 
Situs Lingga Yoni terletak di Jl. Blok Gunung Kabuyutan yang secara adinistratif masuk dalam wilayah Blok Wangkelang Kampung Sindanglengo, Sukamaju Kidul, Kecamatan  Indihiang. Situs  yang terletak di daerah bergelombang yang dimanfaatkan sebagai areal perkebunan ini berjarak sekitar 8 km dari pusat Kota Tasikmalaya. Lokasinya yang dekat dengan jalan besar/raya sehingga mudah dijangkau. Secara astronomis terletak pada koordinat: 49 M 0819390 dan UTM 9192758.

Lingga dan Yoni merupakan benda tinggalan budaya masa klasik Hindu-Buddha, sebagai lambang kesuburan dari perwujudan Siva dan Durga dihubungkan dengan pemujaan terhadap Dewi Ibu. Dewa-dewa dalam agama Hindu, khususnya dewa-dewa tertinggi yang digambarkan memiliki kekuatan untuk melakukan “tugas” yang seharusnya. Kekuatan ini disebut Å¡akti dan seringkali diwujudkan sebagai dewi pasangan dewa-dewa tersebut. Dalam aliran Waisnava, Å akti Wisnu diwujudkan sebagai Laksmi. Dalam aliran Saiwa, Sakti Siwa disebut Dewi. Menurut beberapa Kitab Purana, Å akti Siwa atau Dewi memiliki dua aspek santa atau saumnya (tenang) dan aspek kroda atau raudra (dahsyat). Kultus Dewi Ibu menjadi bagian penting pada kebudayaan agraris sekitar 5000-4000 tahun SM. Hal ini muncul dari ketakjuban dan ketidakpahaman akan proses-proses alam, seperti kelahiran. Pada masa ini masyarakat menganggap Dewi Ibu sebagai personifikasi tanah yang melahirkan tanaman yang diperlukan manusia. Kemudian dibuatlah patung-patung wanita dalam sikap jongkok dalam ukuran kecil yang terbuat dari tanah liat dan batu kapur. Pada masa ini Dewi Ibu dipuja bersamaan pasangan laki-lakinya, karena pada prinsipnya dalam proses kelahiran hal tersebut tidak dapat diabaikan. Lambang Dewi Ibu dan pasangannya berupa alat kelamin wanita dan alat kelamin laki-laki.

Lingga Yoni ini berada di puncak bukit Gunung Kabuyutan. Situs ini menempati areal seluas 52.5 m². Pesawahan yang ada di sekitarnya menurut cerita merupakan danau yang di namakan Situ Wangkelang oleh penduduk setempat. Tempat ini diperkirakan sebagai tempat pemujaan pada masa klasik Hindu-Buddha. Tinggalan di situs ini sebagai berikut : 1. Lingga dan Yoni; 2. Fitur. Posisi Lingga dan Yoni sekarang bergeser sekitar 145 cm dari tempat aslinya. Pergeseran ini terjadi akibat terjatuhnya Lingga-Yoni ke Sungai Ciloseh, kemudian penduduk setempat meletakkannya kembali ke atas bukit tersebut, tetapi tidak tepat di tempat aslinya. Secara keseluruhan berukuran tinggi 82 cm, sedangkan secara terpisah adalah : a. Lingga terbuat dari bahan batu andesit dengan tinggi 45 cm. Bagian atasnya berbentuk silinder dengan diameter 19 cm, bagian tengahnya berbentuk segi delapan, dan bagian bawahnya berbentuk segi empat dengan ukuran 18 cm x 18 cm ; b. Yoni terbuat dari bahan batu cadas dengan tinggi 60 cm. Bagian atas berbentuk tidak beraturan dengan kedalaman dudukan Lingga setinggi 21 cm. Pada bagian tengah terdapat hiasan geometri dan berpelipit. Bagian bawahnya merupakan bagian kaki yang berpelipit dan relatif utuh berbentuk segi empat, dengan ukuran besar pada bagian bawah sekitar 55 cm x 50 cm. Fitur diduga merupakan bekas bangunan percandian, tetapi sudah tidak utuh lagi, yang tampak hanya susunan beberapa batu cadas pada sisi timur dan selatan dengan teras setinggi 50 cm.

Lokasi: Jl. Blok Gunung Kabuyutan, Blok Wangkelang Kampung Sindanglengo, Sukamaju Kidul, Kecamatan Indihiang, Tasikmalaya
Arah:  Sekitar 8 km dari pusat Kota Tasikmalaya

Situs Lingga Yoni

Situs Gunung Susuru


Situs Gunung Susuru

Situs Gunung Susuru terletak di Kecamatan Cijeungjing. Luas situs ini 7 Ha yang dikelilingi oleh 2 sungai di bawahnya, yaitu Sungai Cimuntur dan Cileueur.
Situs Gunung Susuru merupakan tingalan punden berundak dari masa Kerajaan Hindu (Masa Klasik). Disana terletak 3 buah goa yang mempesona, 1 buah sumur batu dan peninggalan lainnya seperti manik-manik, keramik, senjata, batu pipisan, batu peluru dan lain-lain.

 Lokasi :
Situs Gunung Susuru
Desa Kertabumi, Kecamatan Cijeungjing
Kabupaten Ciamis, Jawa Barat
Indonesia
7° 19' 48.2736" S, 108° 26' 57.966" E.
 


Situs Gunung Susuru
Situs Gunung Susuru